Wednesday, 9 September 2015

SELAYANG PANDANG REGENERASI SASTRA JAWA

Media cetak berbahasa Jawa kini tengah sekarat, bukan karena segi kualitas, melainkan kuantitasnya. Dahulu di era 80-90’an, media cetak berbahasa Jawa menjadi rujukan utama bagi masyarakat Jawa pada umumnya. Mulai dari orang-orang desa sampai ke orang kota, karena saat itu bahasa komunikasi yang paling mereka kuasai selain bahasa Indonesia adalah bahasa Jawa. Menyikapi akan hal itu, maka didirikanlah lembaga penerbitan majalah berbahasa Jawa. Pada setiap majalah/media cetak lain yang menggunakan bahasa Jawa pasti selalu memiliki kolom karya sastra Jawa, dan di kolom tersebut akan dimuat berbagai tulisan karya sastra berbahasa Jawa semacam gurit atau cerkak. Hiruk pikuk redaksi untuk menyeleksi karya gurit atau cerkak yang masuk ke meja redaksi selalu terjadi hampir setiap hari, masyarakat Jawa tergugah untuk menyampaikan gagasan pikirannya yang berupa gurit atau cerkak untuk dikirim ke majalah berbahasa Jawa. Meski honor yang didapat tak sampai sebanyak yang diharapkan, namun semangat untuk menyampaikan karya sastra dengan bahasa Jawa masih sangat menggebu saat itu.


Sepeninggal R.N Ranggawarsita, taji dari sastra Jawa kini seakan benar-benar tumpul, beberapa pihak berpikiran bahwa mungkin taji dari sastra Jawa tersebut bisa kembali lagi dengan mengalihkan bentuk penulisan sastra Jawa dari bentuk tembang macapat, dengan berbagai aturan-aturannya ke bentuk gurit dan cerkak. Perlu dipahami bahwa upaya tersebut patut kita hargai selaku masyarakat Jawa. Hanya saja, kita perlu merombak sistem dan jalan untuk men-taji-kan kembali sastra Jawa tersebut.


Pengaruh dari sastrawan besar macam Chairil Anwar dan WS Rendra tentu menggoda konsumsi essensi terhadap karya sastra masyarakat Jawa, yang awalnya condong pada sastra Jawa beralih ke sastra Nasional. Melalui ke-mbelingan sastra Nasional yang diusung oleh Chairil Anwar dan WS Rendra, sastrawan Jawa mencoba mengadopsi ke-mbelingan tersebut kedalam ranah sastra Jawa, namun yang terjadi bukan malah mengembalikan sastra Jawa menjadi ber-taji melainkan terkubur dalam bumi. Pastinya, ada sesuatu yang salah pada saat pengadopsian ke-mbelingan tersebut, entah apa itu, spekulasi yang ada salah satunya adalah pengadopsian itu tak jauh berbeda dengan sekedar pengalih bahasaan semata, apalagi yang diadopsi tersebut adalah dari bentuk puisi bebas ke bentuk gurit.


Terlepas dari kesalahan sistem pengadopsian tersebut, ada lagi satu masalah besar yang menjadi PR bagi para sastrawan Jawa yang bergerak dibidang gurit dan cerkak, yaitu regenerasi. Jelas sekali, sepeninggal R.N Ranggawarsita, belum ada sosok pengganti yang melebihi beliau, jangankan melebihi, sepadan-pun belum ada. Masa menunggu sepertinya harus dihabisi, masyarakat sastrawan Jawa-lah yang harus menjadikan dirinya sepadan dengan Ranggawarsita, bahkan tak tanggung-tanggung mengakui diri lebih hebat dari Ranggawarsita. Dalam pepatah Jawa mengatakan, ‘ojo rumangsa bisa ning bisa rumangsa’, saat ini juga pepatah itu harus dipatahkan, dibalik. Kita harus berani mengakui diri bahwa kita bisa men-taji-kan lagi sastra Jawa, dengan pengakuan tersebut, diharapkan ada implementasi yang sepadan, setidaknya bertanggung jawab terhadap pengakuannya sendiri itu. Harus ada sistem, program-program tertentu yang benar-benar terwujud terhadap sikap gelisah dari ada tidaknya regenerasi sastra Jawa. Sebab yang tua, tidak bisa kembali muda.


Berserak dimana-mana komunitas sastra Jawa, berkegiatan secara rutin dan hampir semua anggotanya pasti sudah memiliki anak. Jarang ditemui anggota yang masih duduk di bangku SMP-sederajat misalnya. Lagipula, pergerakan komunitas tersebut hanya menuju satu arah, yaitu kedalam arah internalnya, belum sampai berani melibatkan masyarakat luas diluar komunitas tersebut. Event-event tentang sastra Jawa dalam setahun bisa dihitung jumlahnya. Konsep dan bentuk acara yang begitu-begitu saja, membuat masyarakat enggan untuk tahu dan malas untuk mengerti tentang sastra Jawa. Agaknya, komunitas sastra Jawa tersebut bisa dikonsep semacam EO (Event Organizer), konsep dan bentuk dari acara-acara mereka harus direvisi dan harus dengan berani tampil keluar, bukan sekedar untuk kalangan dalam kelompok saja. Mungkin bisa dengan memanfaatkan beberapa unsur kesenian lain sebagai pengiring atau penyampai apa itu sastra Jawa kepada khalayak. Setelah melalui hal itu, perlu dibuka open recruitment untuk masyarakat sekitar, pendaftar-pendaftar yang telah dikantungi oleh komunitas sastra Jawa, pada kurun waktu tertentu harus dibuatkan acara sendiri, dengan sistem pembinaan door to door, jadi dengan intensif mereka mendapatkan materi tentang sastra Jawa, diharapkan melalui jalan seperti itu regenerasi Sastra Jawa bisa sukses, dan untuk regenerasi sesudahnya, terserah pada generasi yang telah di-regenerasi.



Kenyataan yang tidak perlu ditakutkan memang berupa sastra Jawa tidak akan pernah punah, sebab ada lembaga berupa keraton yang menjaganya. Hanya saja, pihak keraton melakukan regenerasi tersebut secara intensif sebatas keluarga keraton sendiri, dampaknya masyarakat luar keraton buta dan semakin gelap pengetahuannya tentang sastra Jawa, terlebih dengan perkembangan teknologi saat ini. Memang ada yang memanfaatkan internet sebagai wadah untuk menguri-uri sastra Jawa, sayangnya, internet itu dunia maya, maka hasil yang ada ya cuma bayangan semata, oleh karena itu sastra Jawa harus digerakkan secara nyata dari berbagai elemen masyarakat Jawa yang ada.



Yogyakarta, 10 September 2015

No comments:

Post a Comment