Media cetak berbahasa Jawa kini tengah sekarat,
bukan karena segi kualitas, melainkan kuantitasnya. Dahulu di era 80-90’an,
media cetak berbahasa Jawa menjadi rujukan utama bagi masyarakat Jawa pada
umumnya. Mulai dari orang-orang desa sampai ke orang kota, karena saat itu
bahasa komunikasi yang paling mereka kuasai selain bahasa Indonesia adalah
bahasa Jawa. Menyikapi akan hal itu, maka didirikanlah lembaga penerbitan
majalah berbahasa Jawa. Pada setiap majalah/media cetak lain yang menggunakan
bahasa Jawa pasti selalu memiliki kolom karya sastra Jawa, dan di kolom
tersebut akan dimuat berbagai tulisan karya sastra berbahasa Jawa semacam gurit
atau cerkak. Hiruk pikuk redaksi untuk menyeleksi karya gurit atau cerkak yang
masuk ke meja redaksi selalu terjadi hampir setiap hari, masyarakat Jawa
tergugah untuk menyampaikan gagasan pikirannya yang berupa gurit atau cerkak
untuk dikirim ke majalah berbahasa Jawa. Meski honor yang didapat tak sampai
sebanyak yang diharapkan, namun semangat untuk menyampaikan karya sastra dengan
bahasa Jawa masih sangat menggebu saat itu.
Sepeninggal R.N Ranggawarsita, taji dari sastra Jawa
kini seakan benar-benar tumpul, beberapa pihak berpikiran bahwa mungkin taji
dari sastra Jawa tersebut bisa kembali lagi dengan mengalihkan bentuk penulisan
sastra Jawa dari bentuk tembang macapat, dengan berbagai aturan-aturannya ke
bentuk gurit dan cerkak. Perlu dipahami bahwa upaya tersebut patut kita hargai
selaku masyarakat Jawa. Hanya saja, kita perlu merombak sistem dan jalan untuk
men-taji-kan kembali sastra Jawa tersebut.
Pengaruh dari sastrawan besar macam Chairil Anwar
dan WS Rendra tentu menggoda konsumsi essensi terhadap karya sastra masyarakat
Jawa, yang awalnya condong pada sastra Jawa beralih ke sastra Nasional. Melalui
ke-mbelingan sastra Nasional yang diusung oleh Chairil Anwar dan WS Rendra,
sastrawan Jawa mencoba mengadopsi ke-mbelingan tersebut kedalam ranah sastra
Jawa, namun yang terjadi bukan malah mengembalikan sastra Jawa menjadi ber-taji
melainkan terkubur dalam bumi. Pastinya, ada sesuatu yang salah pada saat
pengadopsian ke-mbelingan tersebut, entah apa itu, spekulasi yang ada salah
satunya adalah pengadopsian itu tak jauh berbeda dengan sekedar pengalih
bahasaan semata, apalagi yang diadopsi tersebut adalah dari bentuk puisi bebas
ke bentuk gurit.
Terlepas dari kesalahan sistem pengadopsian
tersebut, ada lagi satu masalah besar yang menjadi PR bagi para sastrawan Jawa
yang bergerak dibidang gurit dan cerkak, yaitu regenerasi. Jelas sekali,
sepeninggal R.N Ranggawarsita, belum ada sosok pengganti yang melebihi beliau,
jangankan melebihi, sepadan-pun belum ada. Masa menunggu sepertinya harus
dihabisi, masyarakat sastrawan Jawa-lah yang harus menjadikan dirinya sepadan
dengan Ranggawarsita, bahkan tak tanggung-tanggung mengakui diri lebih hebat
dari Ranggawarsita. Dalam pepatah Jawa mengatakan, ‘ojo rumangsa bisa ning bisa
rumangsa’, saat ini juga pepatah itu harus dipatahkan, dibalik. Kita harus
berani mengakui diri bahwa kita bisa men-taji-kan lagi sastra Jawa, dengan
pengakuan tersebut, diharapkan ada implementasi yang sepadan, setidaknya
bertanggung jawab terhadap pengakuannya sendiri itu. Harus ada sistem,
program-program tertentu yang benar-benar terwujud terhadap sikap gelisah dari
ada tidaknya regenerasi sastra Jawa. Sebab yang tua, tidak bisa kembali muda.
Berserak dimana-mana komunitas sastra Jawa,
berkegiatan secara rutin dan hampir semua anggotanya pasti sudah memiliki anak.
Jarang ditemui anggota yang masih duduk di bangku SMP-sederajat misalnya.
Lagipula, pergerakan komunitas tersebut hanya menuju satu arah, yaitu kedalam
arah internalnya, belum sampai berani melibatkan masyarakat luas diluar
komunitas tersebut. Event-event tentang sastra Jawa dalam setahun bisa dihitung
jumlahnya. Konsep dan bentuk acara yang begitu-begitu saja, membuat masyarakat
enggan untuk tahu dan malas untuk mengerti tentang sastra Jawa. Agaknya,
komunitas sastra Jawa tersebut bisa dikonsep semacam EO (Event Organizer),
konsep dan bentuk dari acara-acara mereka harus direvisi dan harus dengan
berani tampil keluar, bukan sekedar untuk kalangan dalam kelompok saja. Mungkin
bisa dengan memanfaatkan beberapa unsur kesenian lain sebagai pengiring atau
penyampai apa itu sastra Jawa kepada khalayak. Setelah melalui hal itu, perlu
dibuka open recruitment untuk masyarakat sekitar, pendaftar-pendaftar yang
telah dikantungi oleh komunitas sastra Jawa, pada kurun waktu tertentu harus
dibuatkan acara sendiri, dengan sistem pembinaan door to door, jadi dengan
intensif mereka mendapatkan materi tentang sastra Jawa, diharapkan melalui
jalan seperti itu regenerasi Sastra Jawa bisa sukses, dan untuk regenerasi
sesudahnya, terserah pada generasi yang telah di-regenerasi.
Kenyataan yang tidak perlu ditakutkan memang berupa
sastra Jawa tidak akan pernah punah, sebab ada lembaga berupa keraton yang menjaganya.
Hanya saja, pihak keraton melakukan regenerasi tersebut secara intensif sebatas
keluarga keraton sendiri, dampaknya masyarakat luar keraton buta dan semakin
gelap pengetahuannya tentang sastra Jawa, terlebih dengan perkembangan
teknologi saat ini. Memang ada yang memanfaatkan internet sebagai wadah untuk
menguri-uri sastra Jawa, sayangnya, internet itu dunia maya, maka hasil yang
ada ya cuma bayangan semata, oleh karena itu sastra Jawa harus digerakkan
secara nyata dari berbagai elemen masyarakat Jawa yang ada.
Yogyakarta, 10 September 2015
No comments:
Post a Comment